EXPERIENCE : LIKA LIKU MENUJU BANGKU KULIAH
kulaiah, siapa sih gak ingin berkuliah apalad=gi di kampus impian yang terkenal dengan lulusan lulusannya yang kini menjadi orang orang yang penting di negeri ini. kali ini saya akan meembagikan cerita perjalanan saya menuju bangku perkuliahan. Dimulai pada saat itu guru BK masuk ke ruangan kelas saya, percaya menyampaikan jika dia ingin menyurvei siapa saja yang ingin melanjutkan kuliah, siapa yang ingin langsung bekerja dan siapa yang ingin berwirausaha.
Oh, iya lupa aku ini lulusan SMK dimana kurikulumnya berbeda dengan SMA. jadi untuk bisa berkuliah aku memang harus belajar lagi karena waktu di smk pelajarannya lebih menjurus ke materi kejuruan dan lebih kepada praktek bukan teori, kemnbali lagi ke survey tadi, dari survey tersebut yah hampir 75 persen ingin untuk berkuliah, 15 persen langsung bekerja dan 10 persen ingin berwirausaha sendiri. Dan aku termasuk 75% yang ingin berkuliah.
Selanjutnya memilih kampus dan jurusan yang ingin diambil, sebenarnya aku sudah tahu ingin mengambil apa. Saya ingin mengambil jurusan komunikasi di Uiversitas Sebelas Maret Solo. dan dari sinilah awal jalan berliku liku muncul. kalian pasti sudah tahu ada beberapa jalan untuk bangku kuliah dari sekolah menegah menuju antara lain SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Peerguruan Tinggi), SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan ujian mandri yang di adakan oleh kampus sendiri.
Di SNMPTN, aku memilih kampus impianku yakni UNS atau Universitas Sebelas Maret Solo, aku mengikuti alur pendaftarannya sampai pada laman website bagian memilih jurusan. pada laman tersebut ajku perhatikan degan seksama dan teliti untuk melihat jurusan ilmu komunikasi namun, ada satu hal yang membuat sedikit jengkel yaitu karena kau tidak bisa memilih jurusan ilkom. Apakah aku yang dari SMK tidak bisa memilih ilkom? ataukah karena jurusanku saat SMK yaitu TKJ (Teknik Komputer dan Jaringan) yang notabene masuk ke dalam rumpun saintek. Entahlah
Karena tidak bisa memilih ilkom di UNS maka saya putuskan untuk pindah agak keselatan yakni ke Jogja di UNY (Universitas Negeri YOgyakarta), pada waktu memilih aku perhatikan lagi apakah ilkom di UNY ini bisa aku pilih atau tidak dan ternyata bisa dan akhirnya aku putuskan untukmemilih UNY pada pilihan pertama dan UM (Universitas Negeri Malang) di pilihan yang kedua. setelah itu aku hanya bisa berdoa dan berharap, harapanku lebih condong ke UNY karena memang dulunya kau ingin berkuliah di jawa tengah atau di Yogyakarta.
Beberapa minggu telah ku lewati dengan persaan yang berdebar-debar, oh iya saat itu aku belum bilang ke orang tuaku jika aku ingin kuliah ke Jogja namun, ayahku tidak setuju beliau ingin aku berkuliah di Malang saja ang mana di sana banyak sanak saudara yang bisa diminta pertolongan, tapi karena aku ngeyel ingin kuliah di Jogja akhirnya pada saat pengumuman kalau tidak salah itu tanggal 24 Maret 2021 di halaman website SNMPTN aku dinyatakan tidak lolos. meskipun demikian aku tidak patah semangat masih ada SBMPTN dan jalur mandiri.
Setelah beberpa minggu akhirnya dibukalah pendaftaran untuk mengikuti SBMPTN. nah disini saya sedikit kehilangan arah ini antara menuruti kemauan atau menuruti perkataan orang tuaku. dan kahirnya aku putuskan untuk mengikuti perintah orang tuaku. aku memilih untuk kuliah di Malang, kerena di UM tidak ada jurusan ilkom maka aku putuskan lagi untuk masuk ke jurusan IT siapa tahu bisa masuk dengan perhitungan pengalaman ku ditolak SNMPTN karena memang berbeda jurusan maka dari itu aku memilih IT di mana itu masih masuk degan jurusanku di SMK.
Kemudian, setelah bebrapa hari aku mengikuti ujian SBMPTN di UNISMA (Universitasn Islam Malang), disini saya bertemu bebrapa kawan dari malang yang ikut SBMPTN juga kebanyakn didominasi oleh siswa sisawa malang sendiri. setelah bebrapa jam ujian selesai, kemudian aku sholat dan terus pulang menuju ke Trenggalek menggunakan travel. Saat itu memang cukup melelahkan dimana setelah ujian aku langsung pulang ke kota asal.
Dan tibalah waktu pengumuman siapa yang lolos SBMPTN dan saat itu aku ditolak lagi. Lumayan down sih, ditolak SNMPTN dan SBMPTN . Eits, iya tahu, masih ada jalur mandiri tapi itu jika ke universitas yang cukup terkenal baiayanya bisa sampe puluhan juta. sebenarnya setelah ditolak SNM dan SBM , aku langsung daftar untuk ujian mandiri UNS dimana ini satu satunya kesempatanku untuk bisa berkuliah di sana, namun, setelah cek dan recheck ada biaya SPI (Sumbangan pembangunan Instansi) sebesar Rp.10.000.000,-, ya gak jadi, mundur aluon alon deh. hehe.
Selanjtnay aku kepikiran kuliah ke UT (Universitas Terbuka) namun ada satu masalah lagi menghalang yakni ijazah yang belum terbit juga, aku dan eman temanku belum mendapatkan ijazah sampai saat ini (September 2021) kami hanya memegang surat keternagan lulusan. setelah itu aku iseng buka buka medsos mencari kampus yang membuka pendaftaran ujian mandiri dan biayanya tidak terlalu mahal dan ketemulah dengan Instgram kampusku sekarang UIN Sayyid Ali rahmatulah Tulungagung dan aku tak mengira bahwa arah yang ingin ku masuki ada di sini. Akhirnya kau putuskan untuk ikut ujian mandirinya dan alhamdulillah biayanya tidak besar besar banget dan alhamdulillah-nya lagi aku diterima di UIN Sayyid Ali rahmatullah Tulungagung, Kampus Dakwah dan Peradaban begitu julukannya.
Itu ceritaku menuju bangku kuliah sangat berliku liku kan ada aja kemacetan yang ditolak, syarat ijazah tapi ijazah belum keluar tidak mendapatkan restu tapi alhamdulillah kini aku bisa berkuliah dengan jurusan impianku dan dekat dengan kota asalku Trenggalek. pesan saya sebelum memilih kampus atau universitas yang ingin dimasuki, lebih baik untuk berkoordinasi dengan orang tuda agar mendapatkan restu mereka sehingga Allah juga akan merestuimu untuk kuliah di tempat tersebut.
"Ridho Orang Tua adalah Ridho dari Tuhan, jika orang tua meridhoi maka Tuhan juga kan meridhoi"
Komentar
Posting Komentar